Mau tahu apa kata-kata yang belakangan ini gw ketik di Google? Packing list. Minimalist packing list. 23-kg packing list. Yang terakhir: how to pack your life into 23 kg. Hahaha, I’m pathetic.
Berdasarkan kebijakan dari maskapai yang akan gw naiki menuju negeri Berlusconi, koper gw hanya boleh mengangkut beban seberat 23 kg. Dan, gw frustasi dibuatnya. Gw heran kenapa gw merasa hal ini mustahil. Barusan gw nonton film-nya George Clooney, “Up in the Air” dimana dia bermain sebagai karyawan yang kerjanya tiap hari terbang ke berbagai kantor cabang. Bayangkan, dia cuma punya 43 hari di darat, dalam satu tahun! Gw aja sampe bengong ngeliat betapa gampangnya dia packing. Plung, plung, plung, semua benda masuk dan… kopernya terlihat ringan. Damn, it’s so not real!
Dear God, what is wrong with me? Kenapa hal ini sangat sulit? Kenapa koper gw yang kosong ini tampak seperti beratnya udah 5 kg? Dalam sebuah packing list yang gw download, tertulis bahwa gw hanya boleh bawa 10 kaos dan blus kalau mau hemat beban. Oke, gw coba. And, you know what? I was stuck on 15! Itu sebelum gw buka laci terakhir dan menemukan baju gw lainnya. Dear God… Dear God… Gak terhitung berapa banyak packing list yang udah gw lihat dan masih belum menemukan jalan keluar. Percaya deh, gw juga udah bikin packing list sendiri, tapi setelah list itu selesai gw buat, segera saja gw tinggalkan. Dan ketika keresahan mulai melanda lagi, gw akan mulai membuat packing list baru. Gilak, kapan selesainyaaa…???
Setelah gw merenungi secara mendalam kenapa packing untuk sekolah selama dua tahun jadi hal yang sulit, gw mulai dapat jawabannya. Logikanya, itu hidup gw, bung! Secara psikologis, gw merasa gak rela untuk pergi dari zona nyaman kehidupan gw. Jadi, gw ingin membawa zona nyaman itu bersama gw dan berusaha untuk mengemasnya di koper gw. Itulah yang membuatnya mustahil. Gw merasa kehidupan gw selama hampir seperempat abad ini harus gw masukkan dalam koper seberat 23 kg supaya gw bisa memindahkan “istana” gw di tanah yang baru. Itu yang membuatnya mustahil! Bukannya berpikir untuk memasukkan hanya hal-hal yang gw butuh, gw malah mencoba menjejalkan semua hal yang membuat gw nyaman. Ini bagai melukis di atas awan, atau menjaring angin.
Pikiran ini mengingatkan gw pada kata-kata seorang yang gw kenal sangat bijak. Nama beliau Pak Wit. Beliau pemimpin redaksi di media tempat gw mengabdi selama 2,5 tahun. Tapi, lebih dari sekedar bos, beliau juga inspirasi buat gw. Suatu hari, beliau mengajak gw berbagi pengalaman jurnalistik di sebuah SMA. Saat itu, beliau mengatakan satu hal yang menyentak pikiran gw. Kira-kira begini kalimat beliau, “Menjadi wartawan sejati artinya tidak terikat pada sesuatu. Kalian harus bisa survive dimanapun kalian berada. Kalian harus bisa masuk ke lingkungan mana saja. Kalian tidak boleh sayang sama nasi. Kalau di tempat kalian berada, makanan yang ada hanya ular, ya kalian harus bisa makan ular!” Kata-kata beliau ini langsung disambut gelak tawa oleh siswa-siswi SMA yang mendengarnya. But, I was stunned that time.
Kata-kata itu sungguh amat benar. Inti yang gw dapat, jika kita terikat dan tidak bisa hidup tanpa sesuatu, that something will just hold you back. Kita gak akan bisa maju. Gw rasa mungkin itu alasannya gw gak pernah dikasih hewan peliharaan. Berkali-kali punya, tapi pasti ada halangannya. Kalau lihat temen-temen yang punya kucing atau anjing, gw suka iri. Tapi, dalam hal ini, gw merasa beruntung. Begitu pula soal makanan. Saat ngobrol dengan beberapa temen yang pernah kuliah di luar, ada yang cerita bahwa dia heboh bawa kecap, sambel botol, abon, sampai mie instan dalam jumlah besar. Gw sempat mau melakukan itu juga. Namun, setelah gw berkontemplasi dan merenung, those are the things that hold you back too. Mungkin benda-benda itu akan mengobati rasa rindu saat kita sakau masakan Indonesia, tapi terima aja deh, memang itu kan pahitnya hidup di negeri orang!
Begitu pula soal keterikatan dengan manusia seperti keluarga, sahabat, pacar, suami/istri, dan bahkan anak. [Memang sih dua yang terakhir itu akan sangat sulit karena kita punya tanggung jawab luar biasa atas keduanya. Gw belum punya keduanya, dan hal ini cukup memudahkan.] Inilah mengapa gw risih sama pertanyaan yang belakangan mampir di telinga gw dari orang-orang yang tahu bahwa gw akan studi di luar. “Terus, Bebeb Gael gimana dong?” Gw sangat bingung menjawab pertanyaan ini. Gimana? Apanya yang gimana? Emang harusnya gw gimana? Gw kecewa ketika orang-orang ini memandang Bebeb Gael sebagai pribadi atau makhluk yang ‘holding me back’, bukan sebagai pribadi yang sangat suportif terhadap langkah besar yang tengah gw ambil. Well, kalau mau tahu, he’s my biggest supporter! Kami sama-sama berdoa untuk studi lanjut gw ini lho, sejak dua tahun lalu. Jadi, ketika akhirnya gw dapat kesempatan, ini bukan hanya jawaban doa bagi gw, tetapi jawaban doa buat Bebeb Gael juga. Jadi, kawan-kawan, si Bebeb Gael gak musti diapa-apain ya. I just have to survive there, and he just has to survive here. That’s it. And, we’re still going to have each other and making our best efforts to keep it that way!
Setelah mengingat kembali kata-kata Pak Wit, gw meninjau kembali daftar bawaan gw. Barang-barang yang gak terlalu penting, mendesak, dan masih bisa gw temukan di sana, langsung gw coret dari daftar. Pack light! Itu dia tips yang hampir selalu gw temukan di berbagai blog dan web tentang travelling. Gw harus bisa bertahan dimana saja dan dalam situasi apapun, dengan atau tanpa hal-hal yang selama ini menyamankan hidup gw. Dengan begitu gw bisa menjadi wartawan sejati, atau pengelana sejati, atau paling tidak seseorang yang bekerja keras mencapai visi dan mimpi. Godspeed!
NB: Buat kalian yang berharap gw berbagi tips untuk packing, sorry to make you dissapointed. Maybe I’ll write in the next post when I figure it out! Haha.


























