Something Holding You Back

Posted: August 26, 2011 in Daily Life
Tags: ,

Mau tahu apa kata-kata yang belakangan ini gw ketik di Google? Packing list. Minimalist packing list. 23-kg packing list. Yang terakhir: how to pack your life into 23 kg. Hahaha, I’m pathetic.

Size does matter!

Berdasarkan kebijakan dari maskapai yang akan gw naiki menuju negeri Berlusconi, koper gw hanya boleh mengangkut beban seberat 23 kg. Dan, gw frustasi dibuatnya. Gw heran kenapa gw merasa hal ini mustahil. Barusan gw nonton film-nya George Clooney, “Up in the Air” dimana dia bermain sebagai karyawan yang kerjanya tiap hari terbang ke berbagai kantor cabang. Bayangkan, dia cuma punya 43 hari di darat, dalam satu tahun! Gw aja sampe bengong ngeliat betapa gampangnya dia packing. Plung, plung, plung, semua benda masuk dan… kopernya terlihat ringan. Damn, it’s so not real!

So easy to pack?

Dear God, what is wrong with me? Kenapa hal ini sangat sulit? Kenapa koper gw yang kosong ini tampak seperti beratnya udah 5 kg? Dalam sebuah packing list yang gw download, tertulis bahwa gw hanya boleh bawa 10 kaos dan blus kalau mau hemat beban. Oke, gw coba. And, you know what? I was stuck on 15! Itu sebelum gw buka laci terakhir dan menemukan baju gw lainnya. Dear God… Dear God… Gak terhitung berapa banyak packing list yang udah gw lihat dan masih belum menemukan jalan keluar. Percaya deh, gw juga udah bikin packing list sendiri, tapi setelah list itu selesai gw buat, segera saja gw tinggalkan. Dan ketika keresahan mulai melanda lagi, gw akan mulai membuat packing list baru. Gilak, kapan selesainyaaa…???

Setelah gw merenungi secara mendalam kenapa packing untuk sekolah selama dua tahun jadi hal yang sulit, gw mulai dapat jawabannya. Logikanya, itu hidup gw, bung! Secara psikologis, gw merasa gak rela untuk pergi dari zona nyaman kehidupan gw. Jadi, gw ingin membawa zona nyaman itu bersama gw dan berusaha untuk mengemasnya di koper gw. Itulah yang membuatnya mustahil. Gw merasa kehidupan gw selama hampir seperempat abad ini harus gw masukkan dalam koper seberat 23 kg supaya gw bisa memindahkan “istana” gw di tanah yang baru. Itu yang membuatnya mustahil! Bukannya berpikir untuk memasukkan hanya hal-hal yang gw butuh, gw malah mencoba menjejalkan semua hal yang membuat gw nyaman. Ini bagai melukis di atas awan, atau menjaring angin.

Pikiran ini mengingatkan gw pada kata-kata seorang yang gw kenal sangat bijak. Nama beliau Pak Wit. Beliau pemimpin redaksi di media tempat gw mengabdi selama 2,5 tahun. Tapi, lebih dari sekedar bos, beliau juga inspirasi buat gw. Suatu hari, beliau mengajak gw berbagi pengalaman jurnalistik di sebuah SMA. Saat itu, beliau mengatakan satu hal yang menyentak pikiran gw. Kira-kira begini kalimat beliau, “Menjadi wartawan sejati artinya tidak terikat pada sesuatu. Kalian harus bisa survive dimanapun kalian berada. Kalian harus bisa masuk ke lingkungan mana saja. Kalian tidak boleh sayang sama nasi. Kalau di tempat kalian berada, makanan yang ada hanya ular, ya kalian harus bisa makan ular!” Kata-kata beliau ini langsung disambut gelak tawa oleh siswa-siswi SMA yang mendengarnya. But, I was stunned that time.

Kata-kata itu sungguh amat benar. Inti yang gw dapat, jika kita terikat dan tidak bisa hidup tanpa sesuatu, that something will just hold you back. Kita gak akan bisa maju. Gw rasa mungkin itu alasannya gw gak pernah dikasih hewan peliharaan. Berkali-kali punya, tapi pasti ada halangannya. Kalau lihat temen-temen yang punya kucing atau anjing, gw suka iri. Tapi, dalam hal ini, gw merasa beruntung. Begitu pula soal makanan. Saat ngobrol dengan beberapa temen yang pernah kuliah di luar, ada yang cerita bahwa dia heboh bawa kecap, sambel botol, abon, sampai mie instan dalam jumlah besar. Gw sempat mau melakukan itu juga. Namun, setelah gw berkontemplasi dan merenung, those are the things that hold you back too. Mungkin benda-benda itu akan mengobati rasa rindu saat kita sakau masakan Indonesia, tapi terima aja deh, memang itu kan pahitnya hidup di negeri orang!

This cutie's definitely holding you back.

Begitu pula soal keterikatan dengan manusia seperti keluarga, sahabat, pacar, suami/istri, dan bahkan anak. [Memang sih dua yang terakhir itu akan sangat sulit karena kita punya tanggung jawab luar biasa atas keduanya. Gw belum punya keduanya, dan hal ini cukup memudahkan.] Inilah mengapa gw risih sama pertanyaan yang belakangan mampir di telinga gw dari orang-orang yang tahu bahwa gw akan studi di luar. “Terus, Bebeb Gael gimana dong?” Gw sangat bingung menjawab pertanyaan ini. Gimana? Apanya yang gimana? Emang harusnya gw gimana? Gw kecewa ketika orang-orang ini memandang Bebeb Gael sebagai pribadi atau makhluk yang ‘holding me back’, bukan sebagai pribadi yang sangat suportif terhadap langkah besar yang tengah gw ambil. Well, kalau mau tahu, he’s my biggest supporter! Kami sama-sama berdoa untuk studi lanjut gw ini lho, sejak dua tahun lalu. Jadi, ketika akhirnya gw dapat kesempatan, ini bukan hanya jawaban doa bagi gw, tetapi jawaban doa buat Bebeb Gael juga. Jadi, kawan-kawan, si Bebeb Gael gak musti diapa-apain ya. I just have to survive there, and he just has to survive here. That’s it. And, we’re still going to have each other and making our best efforts to keep it that way!

Setelah mengingat kembali kata-kata Pak Wit, gw meninjau kembali daftar bawaan gw. Barang-barang yang gak terlalu penting, mendesak, dan masih bisa gw temukan di sana, langsung gw coret dari daftar. Pack light! Itu dia tips yang hampir selalu gw temukan di berbagai blog dan web tentang travelling. Gw harus bisa bertahan dimana saja dan dalam situasi apapun, dengan atau tanpa hal-hal yang selama ini menyamankan hidup gw. Dengan begitu gw bisa menjadi wartawan sejati, atau pengelana sejati, atau paling tidak seseorang yang bekerja keras mencapai visi dan mimpi. Godspeed!

New gear I just bought.

NB: Buat kalian yang berharap gw berbagi tips untuk packing, sorry to make you dissapointed. Maybe I’ll write in the next post when I figure it out! Haha.

Why?

Meeting Marjolein

Posted: August 22, 2011 in Daily Life
Tags: , ,

Pada Selasa (16/8) lalu, sehari sebelum hari kemerdekaan negara gw tercinta ini, gw ikut sebuah kamp. Semacam youth camp gt, yang jadi ritual tiap tahun sejak gw masih kuliah. Kamp semacam ini jadi re-treat buat gw, untuk menenangkan diri, untuk berpikir, untuk berdoa, dan of course, meeting people!

Seharusnya gw berangkat bareng beberapa teman dengan mobil panitia jam 12 siang di Depok. Tapi entah mengapa, I feel like going alone. Sejak gw keluar rumah, gw mikir kayaknya seru juga kalo gw pergi sendiri, dg backpack yang super berat ini, naik bis ke arah Sukabumi. Adventurous! Dan, rencana gw direstui Tuhan. Sesampai di Ps. Rebo, setelah nunggu skitar 15 menit, ada bis menuju Sukabumi. Sayang sekali gw nggak memperhatikan nama bisnya. Yang pasti bukan Langgeng Jaya atau Maya Raya.

 

Begitu masuk, gw minta izin naruh backpack di depan sama Pak Supir. Pak Supir menyuruh gw cari tempat duduk di belakang, katanya masih banyak yang kosong. Thank God memang ada. Di barisan tak jauh dari depan, mata gw langsung nyangkut pada seorang cewek asing (baca: bule) yang duduk bersama backpack-nya yang jauh lebih gede dari punya gw. Dia cantik, rambutnya coklat terang, kelihatannya berumur sekitar 24 tahun, dan raut mukanya sangat ramah. Wah, daripada gw duduk bareng mas-mas tengil, gw milih duduk di sebelah dia.

 

Si cewek itu tersenyum dengan ramah saat gw duduk. Dia langsung narik backpack-nya untuk memberi gw ruang untuk duduk. “Eh, maaf, loe gak kesempitan kan?” begitu dia tanya. Dengan ramah, gw jawab, “Gapapa kok, santai aja…” Terus gw beranikan diri untuk bertanya, “Emm… loe mau pergi kemana emangnya?” Dia menjawab: Cimaja.

This is Cimaja! Awesome...

Apah?? Cimaja? Where the heck is that? Kok bisa bule kayak dia tau Cimaja sementara gw yang orang Indonesia aseli gak tau Cimaja?? Apalagi dia bilang dia ke sana buat surfing. Hah? Ada ya? Wah, gw mulai kagum sama cewek ini. Gak lama kemudian, dia bertanya lagi, apa dia berada di bis yang benar, dan apakah ini jalan tercepat menuju Cimaja. Dengan sopan, gw bilang gw gak tahu Cimaja, tapi akan gw tanyain ke si kenek.

 

Berhubung si kenek gak nongol-nongol, gw nanya sama bapak2 sekitar gw yang sepertinya dari tadi sudah memperhatikan si bule cantik ini. Dengan antusias, tiga orang bapak2 langsung menjawab pertanyaan gw. “Turun di Ciawi, neng…”, kata satu orang. “Atau Cibadak juga bisa, nanti naik bis MGI…”, ucap yang lain lagi. “Biar dia bareng saya aja nanti, neng, saya juga turun Cibadak…”, aih bisa aja nih bapak.

Bus yg harus dinaiki Mbakyu Marjo dr Cibadak...

Akhirnya, gw jelasin kalau dia harus turun Cibadak trus naik bis MGI warna biru yang ber-AC (gak kayak bis yang gw naikin ini), jurusan Sukabumi-Pangandaran. Dari raut mukanya, dia mengangguk-angguk seolah-olah udah pernah mendengar penjelasan itu. Dia bilang terima kasih dan nanya kenapa bahasa Inggris gw bagus. Ehemm… Yah, gimana gak bagus, kan zaman bocah udah dicekokin Inggris dari SD. Dia angguk-angguk kepala tanda kagum, padahal gw dalam hati yang heran berat kenapa bisa ada makhluk kayak dia di bis antah berantah jurusan Sukabumi ini.

 

So, sepanjang perjalanan akhirnya kami ngobrol. Dia dari Holland, namanya Marjolein (baca: mar-yo-len). Dia dokter gigi, baru kerja selama tiga tahun. Karena ini Ramadhan dan pasiennya banyak yang muslim, dan pasien muslim ini jarang cek gigi selama Ramadhan, jadi dia mutusin untuk jalan-jalan selama 4 minggu. Whooot?? Itu kan sebulan. How come loe bisa cuti sebulan sementara kita para buruh Indonesia ini paling banter bisa cuti 12 hari?? *Ngiri abis*

 

Si Marjolein ini tadinya gak berencana ke Indonesia, karena tahun lalu dia udah jalan-jalan di Jawa, Bali, Lombok. Dia mendarat di Filipina awalnya, tapi ternyata di sana hujan terus selama 5 hari. Dan, dari prakiraan cuaca (apa kabar ya prakiraan cuaca TVRI?), hujan masih akan turun sampe 10 hari ke depan. Jadi, dia mutusin untuk pergi ke Sumatera, tepatnya ke Pulau Weh dan Medan.

 

Kami jadi asyik ngobrolin Danau Toba. Menurut gw, Danau Toba dan Pulau Samosir adalah tempat paling keren di Indonesia yang pernah gw kunjungi. Sepi, dingin, dan pemandangan airnya itu lhoo… Gak nahan. Si Marjolein juga berpendapat sama. Amazing, gitu katanya. Wah, jadi pengen ke Samosir lagi.. Khukhukhu…

 

Ohya, gw penasaran berat lho, dimana dia nginep dan dapat begitu banyak informasi tentang daerah-daerah di Indonesia. Apalagi, dia bilang kalo selama di Jakarta, dia itu nginep di rumah temen cewek yang baru dia temui di Pulau Weh. Ya, kayak gw ketemu dia di bis Sukabumi ini. Wow… Wow… Wow… Usut punya usut, rahasianya dia adalah.. Lonely Planet! Sepanjang perjalanan gw emang liat dia megang terus tuh buku Lonely Planet yang tebel abis. Terus, dia juga bilang forum-forum Lonely Planet itu membantu perjalanannya banget. Terutama buat backpacker kayak dia yang hobi wisata dengan biaya seminimal mungkin.

 

Ohmaigat, I’m so curious about backpacking and I wanna so it someday. Begitu gw bilang ke dia. Dan dia bilang, yes, you can should! Huwaa.. Yaudah gw cerita aja kalo bulan depan gw akan ke Itali untuk studi S2 dan pengen banget keliling Yurop dengan cara backpacking supaya murah. Dia cerita kalo di Yurop kemana-mana emang jadi mahal sekarang. Dulu, anak-anak muda bisa keliling Yurop naik kereta dengan murah. Tapi, sekarang? With Eurostar and all  other kinds of luxurious trains, jangan harap!

 

Marjolein bilang, itulah kenapa anak muda Yurop kayak dia sekarang lebih suka pergi ke Asia. Karena, biaya berwisata ke Asia selama sebulan bisa disamakan dengan biaya tinggal di Eropa selama seminggu. Huhu… Trus gimana dong, Pakde, Bude?? Tapi, tenang aja, kata Marjo. Walaupun naik kereta mahal, tapi pesawat sekarang banyak yang murah. Iya, betul, tiket Roma-Amsterdam aja ada yang 30-an euro. Asiik… Lebih asik-nya lagi nih, Marjo nawarin gw untuk nginep di tempatnya dia kalo gw bkunjung ke Amsterdam. Wiiih… mau dong, Marjooo!

 

Hemm.. Singkat cerita, gw dan Marjo bertukar alamat email supaya nantinya kami bisa bertukar kabar. Oh, it was very nice meeting her. Dan gw sangat bersyukur dengan perjalanan ini. Dari dia gw dapat beberapa inspirasi mengenai bepergian ke negara asing, seperti yang akan gw jalani sebulan ke depan. Ini dia tips yang gw simpulkan sepanjang obrolan dengan Marjo:

(1)    Always smile. A smile won’t hurt you. Gw memberanikan diri untuk ngobrol sama Marjo karena dia yang terlebih dulu kasih senyum ramah ke gw. Di sebuah negara yang asing, loe bakal butuh banyak bantuan warga lokal. Jadi, jangan sombong dan usahakan untuk selalu kontak mata dan senyum ke orang-orang yang loe temui. Keramahan senyum loe akan membuat mereka willing to help.

(2)    Talk with local people. Jangan males mulai pembicaraan atau ngajak ngomong warga lokal. Itu akan  menambah pengetahuan loe dan membantu loe dalam banyak hal. Jangan takut kalo bahasa Inggris loe (atau bahasa Italia loe.. hiks) terbatas. Mereka akan paham kok.

(3)    Do some research. Know something. Backpacking bukan berarti buta terhadap tempat yang mau loe kunjungi. Loe tetep harus riset kecil-kecilan tentang daerah tujuan loe. Seperti Marjo misalnya, keep your Lonely Planet guidebook handy! Atau, talk to someone that’s ever been there. Atau, cari warga lokal untuk bisa dapet info transportasi termurah atau jalan-jalan alternatif, atau sekedar memastikan bahwa loe berada di rute yang tepat.

(4)    Be brave. Just be brave. Itu yang gw lihat dari sosok Marjolein. Dia muda dan berani berada di tempat yang sangat jauh dari negara asalnya, yang warga lokalnya—terutama lelakinya—suka memberi perhatian berlebih sama turis asing, yang transportasinya sangat tidak ramah pendatang. Tapi dia sangat tenang, gak panikan walaupun mungkin dia gak tahu mau kemana. She’s sooo… wow! Gw jadi malu. Selama perjalanan gw dari Bekasi-Sukabumi ini aja, gw udah berkali-kali nelpon dan ditelpon sama Bebeb Gael yang takut gw kesasar. Oh, Marjolein, you’re such an inspiration…

Buat kalian yang penasaran sama bentuknya Marjolein, gw sempet (menebalkan muka untuk) mengambil foto dia. And here you are, my gorgeous Marjolein…

Smiley Marjo. Oh, love her smile!

PS: Marjolein lagi belajar fotografi so dia share website fotografi-nya.. Silakan mampir ke www.marjoleinblom.com kalau mau lihat-lihat karyanya!

 

Invictus

Posted: August 13, 2011 in Daily Life
Tags: , ,

Sebuah puisi Victorian yang ditulis oleh William Ernest Henley (1849-1903), pujangga Inggris yang salah satu kakinya terpaksa diamputasi karena tuberculosis saat masih berusia 17 tahun. Meski begitu, ia tetap memiliki semangat hidup hingga akhirnya meninggal pada usia 53 tahun. Puisi ini juga yang memberi semangat Nelson Mandela untuk bangkit saat harus menjalani penjara seumur hidup di sebuah sel kecil di Robben Island. Konon, puisi ini adalah inspirasi kemenangan Afrika Selatan di Piala Dunia Rugby 1995. Just for you, guys!

Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishment the scroll,
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.

Bokke!

Hola! Jedi galau ini baru saja mendapat ide. Gw akan membuat seri [Bagi Ilmu] ini yang isinya hal-hal praktis dan tips-trik ini itu yang intinya bisa memudahkan hidup orang lain. Ini menjadi kompromi antara niat mulia gw untuk berbagi dengan harga diri gw yang gak mau dimanfaatin sama orang. Heh, bingung ya? Gak usah dipikirin. Yang pasti, gw jamin, hal-hal yang gw tulis dalam seri ini tentunya sudah gw jalani sebelumnya.

Oke, this time it’s gonna be… Panduan Mendapatkan Visa Italia! Berhubung gw mendapatkan beasiswa untuk bertarung 2,5 tahun demi gelar Master (Jedi) di sebuah kampung Italia Selatan, maka yang akan gw bahas adalah visa studi. Horeee… Berbahagialah kalian sebab denger-denger visa jenis ini nih yang paling ribet dan njelimet.

Pada dasarnya, persyaratannya sih gak sulit. Semua keterangan tentang persyaratan sudah terdapat di SINI. Kalian yang mau mengajukan visa turis, bisnis, dll persyaratannya juga ada. Baiklah, sudah siap? Mari kita bahas satu per satu.

1. Paspor

Buat kalian yang belum punya paspor, silakan pergi ke pojok dan ngemut sendok. Paspor yang dibutuhkan ini, minimal masa berlakunya 3 bulan sebelum tanggal kadaluarsanya. Kalau paspor-nya expired di tengah masa studi, repot dong ya. Jadi, pastikan paspor kalian masih oke untuk diajak berkelana di negara orang. Buat yang bertanya-tanya apa gunanya paspor, nantinya visa kalian akan ditempel di paspor ini. Gitu, bebeeeb…

2. Fotokopi 4 halaman pertama paspor (1 kopi)

Iya, jangan lupa ya di-fotokopi dulu paspornya. Empat halaman pertama itu artinya mulai dari kalian buka paspor sampe ketemu halaman yang ada tanda tangan kalian. Nah, fotokopi deh tuh. Sebetulnya, butuhnya cuma satu, tapi buat amannya, silakan bikin kopian yang lebih.

3. Form Aplikasi Visa yang sudah diisi lengkap dan ditandatangani

Kalau kalian buka website Kedubes Itali, kalian akan menemukan dua jenis form aplikasi visa, yaitu Form Aplikasi Visa Schengen dan Form Aplikasi Visa Nasional. Bedanya begini. Visa Schengen memungkinkan kalian untuk berkunjung ke negara-negara yang masuk dalam perjanjian Schengen. Daftarnya bisa dilihat di SINI. Asyik dong? Yoi, tapi Visa Schengen ini biasanya hanya berlaku untuk short stay (max. 90 hari). Nah, Visa Nasional jangka waktunya lebih lama, yaitu max. 365 hari. Waaaw… lama ya, bisa nyambi part time memetik zaitun dan memeras anggur. Iya, tapi kalian gak bisa mengejar Rafael Nadal ke Spanyol, atau menguntit Roger Federer ke Swiss. Kenapa? Ya, namanya aja Nasional, jadi hanya berlaku untuk masuk Itali.

Yah terus gimana? Nah, waktu gw mengajukan aplikasi untuk studi selama 2,5 tahun, oleh petugas visa di kedutaan, gw diminta mengisi Form Aplikasi Visa Nasional yang jangka waktunya lebih lama. Dengan ramah, Mbak-mbak petugas itu menjelaskan bahwa gw bisa berkelana mencari jati diri ke negara-negara lain sampai 90 hari pertama. Nah, setelah 90 hari itu seharusnya gw sudah mendapat Permesso di Soggiorno atau izin tinggal yang bisa dipakai masuk ke negara lain. Tentang izin tinggal ini, gw akan tulis di post berikutnya. Mmm… tentunya setelah gw tiba di sana. Haha.

4. Pas Foto sesuai standar I.C.A.O (2 lembar)

Nah, sekarang saatnya kalian membuka dompet mencari pas foto. Aduh, jangan yang zaman SD ya kecuali kalian habis operasi plastik. Meskipun pas foto yang kalian punya itu yang paling terbaru, kalian harus lihat lagi apakah itu sesuai dengan standar I.C.A.O. Berdasarkan keterangan, standar I.C.A.O itu ukurannya 3,5x4cm dan berlatarbelakang putih. Pokoknya, kalian bawa aja deh, pdf yang ada di link I.C.A.O di atas ke mas-mas/orang rumah/orang kantor yang mau memotret kalian, supaya komposisi fotonya pas.

Jika kalian kebingungan, kalian bisa datang ke Foto Djakarta yang ada di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Studio foto legendaries ini sudah piawai kok membuat foto untuk keperluan visa jadi hasilnya pasti oke. Gw juga bikin di sana. Dengan biaya 40rb, kalian akan mendapatkan: CD yang isinya soft copy, 4 lembar foto ukuran 3.5x4cm, dan 4 lembar foto ukuran 4.5x4cm. Nah, gw pake ukuran 3.5x4cm, karena itulah yang sesuai dengan standar I.C.A.O. Satu lembar udah gw tempel di bagian kanan atas form aplikasi, jadi gw tinggal menyerahkan satu lembar lagi.

5. Fotokopi/print Bukti Booking Tiket

Karena gw pegang e-ticket dan bisa di-print sebanyak mungkin, jadi gw kasih hasil print-nya. Tentu banyak yang bertanya-tanya di bagian tiket ini. Tiket ke Itali kan mahal ya, jadi gimana dong kalau gw udah beli tiket terus permohonan visa gw ditolak? Well, di tempat gw membeli tiket (STA Travel, Wisma Mandiri I, Ground Floor), kalian bisa mem-booking tiket dahulu dan diberi batas waktu dua hari. Jika kalian mau nge-print bukti booking tiketnya, kalian harus bayar deposit Rp 200 ribu. Deposit ini akan dikembalikan jika kalian sudah melunasi tiketnya.

Nah, karena pembuatan visa studi ini hanya dua hari, menurut gw, kalian bisa tuh memanfaatkan booking tiket yang jangka waktunya dua hari ini. Tapi, karena gw cukup pede bahwa permohonan visa gw akan diterima (well, kalau persyaratan lain sudah oke, pembuatan visa studi tidak akan dipersulit kok), jadi gw dan temen-temen sekampus lain langsung beli tiket itu. Well, silakan survei juga, siapa tahu ada travel agent lain yang bisa memberi kemudahan pengembalian tiket jika visa ditolak.

Tips: Guys, gw dapet tiket Jakarta-Roma sekali jalan dengan harga yang sangat murah, yaitu 511 USD atau sekitar Rp 4,4 juta. Wew… murah kan? Nah, sebagai mahasiswa, kita dimudahkan dengan adanya kartu mahasiswa internasional yang namanya ISIC. Kartu ini memberikan diskon pada penerbangan di hampir setiap negara, dan juga penginapan murah jika kita bepergian. Nonton di bioskop denger-denger juga dapat potongan lho dengan kartu ini. Gw dapet tiket semurah itu juga karena gw bikin ISIC yang biaya pembuatannya cuma Rp 150 ribu. Buat kalian yang tertarik silakan buka LINK INI.

6. Letter of Acceptance

Ini dia surat ajaib yang bisa memuluskan usaha kalian memperoleh visa studi. Jika kalian sudah resmi diterima sebagai mahasiswa salah satu universitas Italia, kalian tentu akan mendapat Surat Penerimaan Resmi atau Letter of Acceptance (LoA). LoA ini biasanya dikirim melalui email dan pos. Yang harus kalian lampirkan dalam aplikasi visa ini harus surat yang ASELI. Tenang aja, kok, ketika visa kalian sudah jadi, LoA ini akan dikembalikan dengan disertai bubuhan cap dari kedutaan.

Sebaiknya, kalian pastikan LoA yang kalian terima mencakup beberapa keterangan penting seperti: jenjang kuliah (S1/S2/S3), lama kuliah, tanggal mulai kuliah, dan alamat lengkap kampus. Jika kalian penerima beasiswa, sebaiknya cakupan beasiswa kalian juga diuraikan dalam LoA. Jika surat yang kalian terima tidak mencakup data-data itu, ada baiknya kalian mengkomunikasikan hal itu ke pihak kampus.

7. Bukti Akomodasi

Bukti akomodasi bisa berupa bukti booking apartemen atau surat pernyataan dari kerabat kalian jika kalian akan tinggal dengan mereka. Jangan lupa, sertakan juga alamat lengkap dan nama beserta telepon atau alamat email yang bisa dihubungi. Untuk kalian yang mendapat beasiswa, kalian tidak perlu menyertakan surat ini jika masalah akomodasi kalian sudah ditanggung dan dijelaskan di LoA.

8. Asuransi Perjalanan

Oleh kedutaan, kalian diminta untuk menyertakan bukti polis asuransi perjalanan yang nilai tanggungannya minimal 30.000 Euro. Umm… berapa ya itu? Yah, sekitar Rp 370 juta lah. Wah, banyak banget! Well, tentu besar premi yang harus kalian bayar tidak sebesar nilai tanggungannya ya. Untuk asuransi dengan jangka waktu 1 tahun saja, kalian cukup membayar sekitar 110 USD atau Rp 961 ribu. Salah satu asuransi perjalanan yang dipercaya oleh kedutaan adalah Asuransi ACA yang kantornya ada di Harmoni atau Slipi. Ohya, kalian tak perlu melampirkan bukti polis asli dalam aplikasi visa. Cukup fotokopi-nya aja ya.

9. Surat Referensi Bank dan Rekening Koran

Pada dasarnya, ada dua dokumen yang harus kalian dapatkan dari bank: surat referensi dan rekening koran atau fotokopi buku tabungan selama tiga bulan terakhir. Surat referensi ini isinya pernyataan dari bank bahwa kalian adalah nasabah yang baik dan tidak pernah bermasalah dengan bank. Untuk mendapatkannya, kalian bisa mendatangi customer service di bank kalian dan membawa surat permohonan untuk pembuatan surat ini. Biasanya mereka udah terbiasa kok dimintai surat ini untuk pembuatan visa. Di beberapa bank, pembuatan surat ini ada biayanya, tapi ada juga bank yang memberikannya secara gratis.

Kedua, rekening koran. Ini juga bisa kalian minta bersamaan dengan saat kalian meminta surat referensi. Atau, kalian bisa mengkopi sendiri buku tabungan kalian selama tiga bulan  terakhir (jangan lupa halaman depannya ya…) lalu minta bank yang bersangkutan memberi cap di tiap halaman sebagai pengesahan. Hal yang sama juga berlaku jika kalian memakai rekening orangtua sebagai jaminan.

10. Surat Keterangan Dukungan Orangtua

Surat ini diperlukan jika kalian dibiayai orangtua atau memakai rekening orangtua dalam persyaratan sebelumnya. Surat ini dibuat oleh orangtua dengan menyatakan bahwa kalian memang benar anaknya dan akan menanggung biaya hidup kalian selama studi. Di bagian bawah surat itu, orangtua kalian perlu membubuhkan tandatangan di atas materai. Sertai surat ini dengan fotokopi KTP orangtua, Akta Lahir, dan/atau Kartu Keluarga.

Jika sudah lengkap, susun dokumen sesuai dengan urutan di atas dan masukkan dalam map. Serahkan dokumen ini langsung ke Kedutaan Besar Italia di Jl. Diponegoro No. 45, Menteng, Jakarta Pusat. Waktu penyerahan aplikasi visa adalah pukul 09.30-12.30 WIB sementara pengambilan visa pukul 14.00-15.00 WIB. Tapiii, kalian tidak boleh datang tanpa membuat perjanjian. Untuk mendapatkan appointment untuk menyerahkan aplikasi, kalian harus daftar di LINK INI dan memilih hari dan tanggal yang sesuai. Ada baiknya, appointment ini kalian pesan jauh-jauh hari karena tanggalnya cepat banget full-booked.

Setelah menyerahkan aplikasi, kalian akan diberi kartu pengambilan. Jangan sampai hilang ya, karena kalian akan didenda Rp 50 ribu dan lebih parah lagi, tidak bisa mengambil visa dan paspor kalian. Jangan ragu bertanya pada petugas di loket visa jika kalian bingung. Seperti yang gw katakan sebelumnya, visa studi biasanya selesai dalam dua hari. Berita baik lainnya adalah, pembuatan visa studi ini GRATIS alias FREE OF CHARGE.

NB: Sebelum membuat visa, pastikan kalian sudah melakukan melakukan prosedur pre registrasi. Proses ini wajib untuk semua pelajar yang akan bersekolah di Italia. Proses ini dilakukan bersamaan ketika kalian mendaftar ke kampus yang kalian tuju. Lembaga yang menangani proses ini adalah Istituto Italiano di Cultura di Jl. HOS Cokroaminoto No. 117, Jakarta, Telp. (021) 392-7531/32.

LDR. Apaan tuh? The Law of Diminishing Return? Long-Distance Relationship? Belakangan ini, kata-kata ini banyak terdengar: Wah, long distance dong? Emang bisa? Pacar loe gimana? Ditinggalin dong? How if you fall for some olive-skinned guys? Oh, please! Life goes on, guys. Ada banyak hal dalam hidup yang gak menyenangkan. Salah satunya, perpisahan.

Kalau saya sedih, saya berubah jadiii... H-I-J-A-U!

Kami takut. Kami cemas. Kami gentar. It’s true. Terus, emangnya kami bisa apa? Kami hanya bisa pasrah dan melangkah dalam iman aja. Untuk seorang yang pernah gagal dalam hubungan jarak jauh setelah pacaran selama 3,5 tahun, gw masih bisa merasakan rasa pahitnya. Apalagi ketika melihat orang yang begitu loe percaya bisa-bisanya fell for someone else he barely knew!

Terus karena ada resiko untuk gagal, kami gak coba gitu? Gw gak mau dong suatu hari nanti, hanya bisa bilang gini sama anak-anak gw, “Nak, Mama dulu dapat kesempatan bisa sekolah lagi lho. Tapi Mama gak ambil, soalnya Mama takut. Bahasanya susah, belajarnya susah, apalagi pisah sama papamu. Hiii… Nanti gimana kalau Papa tiba-tiba ketemu sama Emma Watson? Atau Mama duduk sebelahan di pesawat sama Gael Garcia Bernal? Iiiih, kan nanti jadinya gak ada kalian…”

Watson dan Bernal. Dua manusia yang mencoba memisahkan cinta kami.

We are beautiful people.

Gila kali kalau anak-anak  gw dikasih kata-kata pecundang macam itu. Well, I don’t think they deserve it. My children deserve a better, and stronger parents! Gw pengen mereka bangga karena ibunya seorang pejuang karena suatu hari nanti gw ingin mereka juga begitu. Dan mereka juga bisa bangga karena ayahnya membuktikan bahwa dirinya “is a true gentleman“, bukan kucing garong yang main-embat-main-sikat-sapa-sing-liwat.

Jadi, tak usah lah memikirkan semua ketakutan itu. In God’s hands, we will walk. Long-distance relationship won’t harm us. Ketika perasaan “helplessness” itu muncul, mungkin hati ini hanya bisa mengucap: tolong, Tuhan. Tapi, kalau kami berhasil, kami akan jadi lebih kuat, lebih dewasa, lebih tulus, lebih berlipat ganda kasih setianya. And this is good for us. Yes, we can!

(While working on this post, I was in race with the doppelganger girl. This post was due to be published at 00.00 am, 11 June 2011. And, I think I won! Haha…)

Hari ini adalah hari paling cheesy dalam hidup gw. Literally. Pagi ini, gw terbangun dengan panik karena belum siapin apa-apa untuk wawancara dengan seorang maestro keju Australia yang sedang berkunjung ke Indonesia selama dua hari.

Akhirnya, setelah riset singkat tentang Neil Willman, gw berangkat menuju ruko perkantoran di bilangan Artha Gading. Ternyata, meeting point kami adalah di sebuah ruko (yang tampak kecil di luar namun besar di dalam—Tardis, huh?) dengan plang bertuliskan: Bakery and Chef Centre. Sekilas dalam hati gw berkata: “Hah? Ada ya tempat kayak gini di Jakarta?

Tempat ini memang tampak kecil dari luarnya. Tapi setelah masuk ke dalamnya, terutama lantai dua, wuaaah ada dapur yang keren banjet. Mengingatkan gw akan dapurnya Julia Child yang digambarkan di film Julie and Julia. Ohya, bagian itu nanti. Sekarang wawancara sama Mr. Willman dulu.

Part I: Meet the Cheese Master, Neil Willman!

Mr. Willman datang dan gw memperkenalkan diri sebagai wartawan untuk koran anak-anak. Seperti layaknya orang Australia lainnya, ia membalas dengan ucapan: fantastic! Lalu, gw mulai dengan pertanyaan: apa sih sebenarnya profesi master of cheese itu? Maklum lah, di Indonesia dimana rakyatnya lebih doyan singkong daripada keju, profesi itu masih asing. (Eh, ada gak sih master of singkong di Indonesia?)

Dia bercerita bahwa kerjaannya itu mengajari orang membuat keju, mengajarkan keunggulan keju, apa yang membuat keju itu enak, dan manfaat keju. Bahkan, dia juga membantu orang-orang yang ingin mendirikan pabrik keju. Wow!

Keju bisa populer di Australia karena orangtua tahu benar apa manfaat keju untuk anak-anak mereka. Kita udah tahu dong bahwa keju mengandung kalsium dan protein yang tinggi sehingga bisa membantu tumbuh kembang anak. Nah, karena itu, orangtua memastikan anaknya mengkonsumsi cukup banyak keju. Sederhana banget ya. Dari situ, keju jadi makanan pokok di Australia. Karena adanya pengetahuan yang disebarluaskan. Jleb!

Mr. Willman juga menjelaskan kenapa keju Australia itu adalah salah satu yang terbaik di dunia. Penjelasannya menarik nih karena mengingatkan gw akan statement lucu: Happy cows make good milk and cheese. Menurut Mr. Willman, sapi-sapi Australia itu termasuk sapi bahagia (terjemahannya gak enak banget nih). Bahagia karena mereka hidup pada habitat yang layak. Padang rumput yang luas dimana mereka bisa menghirup udara yang segar dan berkelana dengan bebas.

Kebahagiaan mereka itu ikut tercurah dalam susu yang mereka keluarkan. Konon, keju yang dibuat dari susu sapi-sapi bahagia itu warnanya lebih kuning cerah dari produk susu sapi tidak bahagia. Iklim Australia selatan menjadi penunjang utama dari kualitas produk susu negara itu. Sapi Indonesia? Boro-boro bahagia. Udah kurus kering disuruh narik bajak pula.

Gw juga iseng nanya tentang keju yang diproduksi negara-negara Asia. Meski keju bukan bagian utama dalam kuliner Asia, tapi sekarang ini mulai banyak negara Asia yang melirik industri produk susu. Hal ini dilihat Mr. Willman dari antusiasme peserta-peserta seminar dari Asia untuk belajar tentang keju.

Sebetulnya, keju bukan hal yang asing di Asia. Hanya saja, menurut gw, masyarakat Asia memproduksi dan menggunakan keju dengan cara dengan berbeda. Waktu gw pelesir ke Siantar, Sumatera Utara, gw kaget ketika disajikan seonggok benda putih seperti butter di meja. Menurut sohib gw yang udah kenal betul kuliner sono, itu namanya susu kerbau. Herannya, teksturnya gak cair layaknya susu. Dan, setelah dicoba, rasanya mirip sekali dengan mozzarella. Tapi, yang lebih ajaib lagi, keju kerbau itu tidak dimakan dengan roti, melainkan dengan nasi dan sayur ubi tumbuk. Rasanya? Shockingly delicious!

Pertanyaan terakhir yang gw tujukan ke Mr. Willman adalah, bagaimana keju bisa menjadi passion-nya. Dia tersenyum dan menjawab: “From the time I was able to walk, my parents had given me cheese. So, I was born with cheese in my mouth. I lived in a dairy farm so I had milk every day. It’s a natural progression from milk to making cheese. When I discovered how many different cheeses in the world, I think, I would live my life and I would never be able to learn everything about cheese. So, it keeps me, intellectually, excited because I know I’ll always learn something new. Even now, I learn something new all the time I have cheese. I see cheeses around the world. It’s an amazing subject. So, a day without cheese is not worth living.”

Wow, I’m speechless!

Part II: Cheese Tasting

Setelah ngobrol sama Mr. Willman, gw diajak naik ke lantai dua untuk menyaksikan Mr. Willman presentasi tentang keju. Sebenarnya, ini di luar dugaan karena niat gw cuma wawancara aja. Tapi, pucuk dicinta ulam tiba, gw samber aja kesempatan mencicipi keju aneka rasa, jenis, bentuk ini.

Seperti yang gw sebut tadi, lantai dua ternyata adalah sebuah dapur luas yang sangat classy. Yang dimaksud classy ini tentunya Barat sekali lah ya, tidak nampak seperti dapurnya rumah Indonesia. Alat-alat berat seperti mixer, oven, kulkas super gede lengkap. Panci, piring, mangkok tertata sesuai warna dan besar. I think this is what all momma want!

Di tengah dapur, ada meja besar dengan display bermacam-macam keju. Gw sempatkan memotret Mr. Willman dengan display ini. Setelah 30 menit menunggu, Mr. Willman memulai presentasi. Doi terlihat sangat piawai menjelaskan soal keju mareju. Seneng deh ngeliat orang yang punya passion akan satu hal dan benar-benar ‘into it’.

Pengetahuannya akan keju benar-benar luar biasa. Wajar sih mengingat dia udah 40 tahun menggeluti bidang itu. Tapi yang menarik, dia bukan hanya tahu tentang jenis-jenis keju, tapi sampai punya banyak ide bagaimana menyajikan keju supaya menggugah selera. Keren!

The best part is, kami semua yang nonton di situ diperbolehkan mencicipi keju-keju yang dia jelaskan. Dia juga antusias meminta pendapat kami, apakah kami suka atau gak dengan keju yang kami coba. Dia bilang, kadang suka mengamati wajah orang yang aneh-aneh ketika lagi nyobain keju.

Ada satu pernyataan dari dia yang gw suka banget: “Tongue is like fingerprint. Everyone tastes differently.” Bener banget! Lidah itu punya selera masing-masing. Keju camembert yang dia bilang enak, tapi bikin gw geli dan berkata: “Keju opo iki?? Kememble??” Di sisi lain, durian digilai rakyat jelata di Indonesia (pastinya bukan gw), tapi Mr. Willman malah bilang: “Serius loe? Buah yang beginian loe makan?”

Overall, ada empat jenis keju yang kami cobain. Cheddar (mild), camembert, parmesan, dan feta cheese dengan berbagai rasa. Cheddar-nya beda deh dengan merek Keraf yang biasa gw beli. Teksturnya lebih chewy dan mild. Untuk starter lumayan lah, apalagi buat gw yang gak pernah makan keju tanpa apa-apa.

Cheddar

Cheddar

Kedua, camembert. This is awful, I think. Teksturnya terlalu chewy. Kayak permen Sugus tapi jauh lebih chewy. Rasa susunya terlalu kental dan baru sekali gigit rasanya uda enegh di lidah gw. Herannya, my matey malah suka. “This is good, this is good,” begitu katanya. Halah! Karena gak tahan, akhirnya gw lahap cracker di depan mata untuk menghilangkan rasa enegh-nya.

Camembert

Kemudian, parmesan. Haha. Ada cerita lucu tentang ini. Sebelum ketemu Mr. Willman, gw bilang ke my matey kalau gw pernah bikin parmesan dari keju cheddar beku di kulkas gw. Keju yang udah keras itu gw parut jadi serbuk lalu gw masukin kulkas lagi. Jadilah, parmesan jadi-jadian ala gw.

Eh, ternyata beneran lho, parmesan itu sederhananya, cheddar yang udah keras. Kata Mr. Willman, biasanya ada bintik-bintik putih di permukaan parmesan. Nah, bintik-bintik putih itu kalsium. Parmesan yang gw coba ini juga rasanya beda. Very very salty. Buat yang gak biasa, keju ini bisa bikin merem melek.

Parmesan

Ngomong-ngomong soal bintik-bintik pada keju, jadi inget potongan keju basi yang ada di film Diary of a Wimpy Kid. Seperti layaknya makanan lain, keju bila dibiarkan pada udara terbuka akan berjamur. Jadi, keju jenis mould cheese adalah keju yang berjamur. Gile, udah berjamur dimakan?

Yup, begitu kata Mr. Willman. Tapi, lihat-lihat dulu kawan, warna jamurnya. Jangan asal makan! Tips dari Mr. Willman, selama jamurnya masih berwarna hijau, biru, atau putih, keju itu masih layak dimakan. Kita tinggal potong aja lapisan yang berjamur itu. TAPI, kalau warnanya merah atau hitam, mending dilempar aja jauh-jauh alias jangan dimakan.

Terakhir adalah feta cheese. Feta adalah keju dengan tekstur sangat lembut. Persis kayak perkedel yang belom digoreng. Nah, feta ini rasanya macem-macem nih. Pertama, yang kami coba rasa Melon & Mango. Rasanya? Emmhh, gw gak demen. Aneh bener. Mana ternyata ada kelapanya juga. Hadeh. Tapi buat yang penasaran, boleh dicoba lah.

Feta cheese "Melon & Mango"

Ada dua rasa lagi yang disajikan. Feta rasa kacang dan garlic-chives. Yang garlic gw suka nih. Kayak keju yang ada di dalam Stuffed Crust-nya si Gubuk Pizza. Rasanya tepat seperti apa yang gw harapkan ketika membayangkan keju. Sementara itu, feta rasa kacangnya gak terlalu pas di lidah gw. Sama seperti yang Melon & Mango itu, rasanya maksa.

Pengalaman hari ini benar-benar baru dan menyenangkan. Selama ini, gw suka terdiam lama di bagian keju saat lagi belanja di supermarket. Gw suka banget melihat dan mengenali satu per satu jenis keju itu karena gw suka bingung kalau baca resep-resep Barat. Nah, pertemuan dengan Mr. Willman ini benar-benar mencerahkan pikiran dan lidah gw.

Last but not least, gw akan menuliskan fakta-fakta tentang keju yang selama ini mungkin dianggap mitos oleh rakyat Indonesia. Here we go and… let’s have cheese, please!

Fakta tentang Keju:

1. Memakan keju cheddar setelah makanan utama dapat mencegah kerusakan gigi.

2. Riset membuktikan, memakan keju cheddar atau keju jenis semi-keras lainnya tidak menaikkan tingkat kolesterol.

3. Cheddar, dan keju jenis semi-keras lainnya, memiliki kandungan kalsium tinggi yang baik bagi kekuatan tulang.

4. Semua keju jenis keras memiliki sedikit atau bahkan sama sekali tidak mengandung laktosa. Ini berita bagus bagi penderita lactose intolerant.

5. Tanggal best before pada kemasan keju bukan menandakan keju Anda basi atau tidak bisa dimakan lagi. Itu artinya, setelah tanggal tersebut, keju Anda akan memiliki aroma dan rasa yang semakin kuat.